Senin, 21 September 2020

 CHALLENGE 2 : TANTANGAN MASA DEPAN 

--

Halo semuanya! perkenalkan nama aku Alyssa Maharani Putri. Aku adalah seorang mahasiswi baru Institut Teknologi Bandung angkatan 2020 dan sekarang aku sedang dalam masa orientasi pengenalan kampus atau kalau di ITB lebih dikenal dengan OSKM (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa). Aku berasal dari keluarga 105 :D 

Nah, selama menjalani kegiatan OSKM ini, aku mendapatkan banyak sekali ilmu baru dari materi-materi yang disampaikan. Kali ini, aku mau berbagi ilmu bersama kalian (yang baca blog ini) tentang salah satu materi yang menurut aku materi paling menarik. 

Jadi kali ini, aku akan membahas tentang sebuah akronim yaitu V.U.C.A 

ayo bahas dulu apa itu VUCA. Intinya, VUCA itu adalah konsep yang mendeksripsikan sifat perubahan yang dihadapi dan akan dihadapi dunia. Dari mempelajari VUCA ini, kita dapat mengkaji lebih jauh tentang bagaimana kita melihat dan memahami suatu masalah yang dihadapin lingkungan, sehingga diharapkan, kita dapat melihat suatu masalah dari perspektif yang lebih luas dan bisa memberikan solusi yang tepat untuk menangani masalah / tantangan tersebut. 

VUCA itu semacam SWOT kalau kalian2 pernah belajar di prakarya dan kewirausahaan hehe 

VUCA adalah kependekkan dari Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity. Agar lebih jelas, ayo langsung aja kita terapkan VUCA ini ke suatu masalah yang ingin aku bahas. 


[TEORI KONSPIRASI] 

Untuk menjelaskan konsep VUCA ini, aku mengambil suatu masalah yang cukup marak di masyarakat sekarang ini, yaitu "teori konspirasi". 

V  for Volatility

Volatility secara harfiah diartikan sebagai "fluktuatif". Artinya, kita tidak tahu pasti kapan sebuah teori konspirasi akan mencuat di media dan menggegerkan jagat maya. Kita tidak tahu apakah sebuah teori konspirasi itu akan tersebar dengan cepat di media sosial dan seberapa besar orang-orang akan terpengaruh dengan teori konspirasi tersebut. Volatility disini diartikan sebagai sebuah keadaan yang tidak menentu. Kita tidak tahu apakah sesuatu akan meningkat secara skala atau tidak, dan kalau pun itu meningkat, kita tidak tahu apakah meningkatnya akan secara perlahan atau bisa tiba-tiba saja naik drastis karena sesuatu hal yang tidak kita duga. 

Contoh yang paling simpel adalah teori konspirasi yang menyelimuti pandemi Covid 19 ini. Memang pada awalnya virus pandemi ini sempat dirumorkan adalah sebuah teori konspirasi yang melibatkan hubungan antarnegara. Namun, kala itu penganut teori konspirasi ini masih sangat sedikit jumlahnya di indonesia. Orang-orang yang mengetahui teori konspirasi tersebut bisa jadi adalah orang-orang yang memang penggemar teori konspirasi atau memiliki akses untuk mencari informasi-informasi mendalam seperti itu, bukan orang awam. Tapi kemudian, beberapa saat yang lalu tiba-tiba saja mencuat ke media sosial seorang public figure yang menyuarakan kebenaran teori konspirasi ini dengan sangat kekeh dan dengan data-data yang terlihat "meyakinkan" sehingga membuat para pengikut media sosialnya yang cukup banyak itu, yang pada awalnya awam soal teori konspirasi ini, menjadi ikut percaya soal kebenaran teori konspirasi tersebut (yang padahal tidak kita ketahui bagaimana kebenarannya). Orang-orang yang tadinya tidak mengetahui pun mengetahui dan ditambah dengan cara public figure ini yang sangat provokatif, membuat konspirasi saat itu meledak sekali di dunia maya. 

Teori konspirasi tidak selalu dibahas secara rutin di forum internet. Biasanya untuk teori konspirasi menjadi booming di kalangan masyarakat, ada pemicunya. Seperti misalnya, kematian seorang artis hollywood yang dipercaya menganut satanisme tiba-tiba meninggal dengan kecelakaan yang tidak jelas, saat itulah teori konspirasi tentang penganut ajaran sesat di hollywood kembali booming di media sosial. Pemicu-pemicu itulah yang tidak bisa kita prediksi, contoh pemicu lain adalah jika ada seorang youtuber/konten creator yang sedang populer populernya, membuat konten yang membahas sebuah teori konspirasi yang sudah bertahun-tahun tidak dibahas, lalu karena itu, teori konspirasi itu kembali viral karena mungkin banyak anak-anak muda yang baru mengetahui soal konspirasi tersebut. 

Nah, itulah Volatility, dimana kita tidak mengetahui kapan teori konspirasi itu akan meningkat atau mereda. 

U for Uncertaintty 

Teori konspirasi mayoritas diselimuti oleh ketidakpastian. Karena kita tidak tahu juga dari mana teori konspirasi ini awalnya berasal. Siapa orang yang pertama kali menyebarkan teori konspirasi ini? Orang seperti apa yang menyebarkan teori konspirasi ini? Apakah seorang pelajar? pengangguran? pekerja kantoran? karena tiap orang pasti memiliki cara berpikir yang berbeda tergantung lingkungannya. Kemudian, atas dasar apa dia menyebarkan teori konspirasi tersebut? Apakah hanya ingin viral di internet? atau ada kepentingan pribadi? Kita tidak pernah tahu .

C for Complexity 

Teori konspirasi bisa dibilang sangatlah kompleks karena teori konspirasi selalu ada dalam sebuah lingkup yang besar : Industri hiburan, pemerintahan, astronomi, kasus pembunuhan, dan juga lingkup yang kontroversial seperti pedofilia, pornografi dan sebagainya. Tentu saja hal-hal ini adalah masalah yang begitu kompleks bila dibahas. Teori konspirasi bisa ada pada setiap bidang. Contohnya saja tentang teori konspirasi keberadaan alien. Orang biasa tidak bisa membahas secara mendalam teori konspirasi tersebut karena itu masuk ke bahasan bidang astronomi yang ditempuh bertahun-tahun pendidikan. Bahkan penikmat teori konspirasi akut pun bisa sampai benar-benar mempelajari ilmu baru untuk mendalami sebuah teori konspirasi. Atau contoh yang lebih simpel lagi adalah teori konspirasi di sistem pemerintahan. Sistem pemerintahan itu sendiri merupakan sistem pengelolaan suatu negara yang dirancang sedemikian rupa dan sistem yang berskala besar, jadi pasti sangatlah kompleks. Dan lagi, suatu teori konspirasi pada suatu bidang bisa saja merembet ke bidang-bidang lainnya. 

A for Ambiguity 

Ambiguity berarti memiliki makna ganda. Teori konspirasi ini sendiri muncul sebenarnya karena adanya makna lain yang ditangkap suatu audiens atas apa yang dilihatnya. Kemudian orang yang melihat kembali menyimpulkan sesuatu dari pandangannya sendiri sehingga menambah keurmitan teori konspirasi tersebut. 

--

Begitulah cara menganalisis permasalahan Teori Konspirasi dengan konsep VUCA. Secara garis besar Teori konspirasi ini muncul secara tidak terduga, dengan sumber yang tidak jelas asalnya darimana, pembahasannya bisa menjadi sangat kompleks, dan merupakan hasil dari adanya makna ganda dari yang sebenarnya terjadi dengan pandangan audiens. 

Sekian pemaparan aku mengenai analisis teori konspirasi dengan konsep VUCA, semoga bermanfaat :) 

mohon maaf apabila ada pernyataan yang kurang berkenan atau tidak sesuai dengan kenyataan. Teori Konspirasi sendiri bisa dikategorikan sebagai hoaks yang post-truth pada suatu titik tertentu. Alangkah baiknya kita sebagai masyarakat menanggapi teori-teori konspirasi yang booming di media sosial dengan bijak. Jangan mempercayai teori konspirasi apalagi yang sangat tidak mendasar dan menggembar gemborkan hal tersebut. Tapi, aku tidak melarang kalian untuk mempercayai teori-teori konspirasi yang beredar, itu adalah hak maisng-masing orang untuk percaya atau tidak, tapi kalian juga punya tanggung jawab untuk bersikap bijak karena menyebarkan sesuatu di media sosial urusannya bisa panjang. 

Sekian dan terima kasih :D